Di meja kayu tua, sejarah mencatat dengan tinta pekat,
tentang langkah-langkah yang pernah berlumur debu dan luka.
Namun seseorang datang membawa selembar piagam,
mengibaskannya seperti sapu halus yang pura-pura membersihkan noda.
Gelarnya berkilau
bukan karena cahaya,
melainkan karena tangan-tangan yang mengangkatnya terlalu tinggi,
hingga bayangannya menutupi jejak masa lalu
yang hendak dikubur diam-diam.
Ia pikir, dengan satu upacara,
semua rekam yang dikhianatinya akan lenyap;
bahwa sorak tepuk tangan dapat menenggelamkan
suara-suara yang dulu pernah ia bungkam.
Tapi sejarah bukan pasir basah
yang bisa dihapus ombak.
Ia adalah batu karang yang menyimpan ukiran,
digosok seribu gelar pun tetap tampak
retaknya.
Dan malam tahu segalanya:
siapa yang berjalan dengan kepala tegak,
dan siapa yang membawa gelar
seperti selimut untuk menutup
dosa yang masih menguap dari langkahnya.
Pada akhirnya, gelar hanya huruf-huruf dingin
tak mampu memadamkan api kebenaran.
Jejak yang hendak dipadamkan
akan selalu menyala di ingatan orang-orang
yang tak pernah lupa cara membaca sejarah.