Rehat Sejenak
Saat seutas temali kau rimbungkan bersama selaksa duka, karena keperihan dari pucuk harapan yang tidak tergapai pasti akan pupus sebelum
Bertutur Dalam Goresan
Saat seutas temali kau rimbungkan bersama selaksa duka, karena keperihan dari pucuk harapan yang tidak tergapai pasti akan pupus sebelum
Jangan hanya berkata kenapa dan kenapa Karena kau juga aku dan kamu adalah ahli waris negeri ini punya hak yang
Disini kutermangu Tempat dimana dulu kau limpahkan tetes air mata dipundaku Kala kita sepertinya sulit bicara Karena kepedihan mendekap begitu
Sekian lama ingin menulis sepucuk surat padamu Saat kau tinggalkan kota ini karena keterpaksaan Namun tak tahu alamat tempatmu menetap
Entah, kapan pertama kakiku berpijak di tanahmu Aku sudah tak mengingatnya Karena hampir setiap berganti musim aku berlabuh disana Sebagai
Hidupku bukanlah sebuah misteriKetika langkah ini terhenti di persimpanganBukan berarti nafasku terengah-engahAku hanya butuh sejenak untuk berhentiBukan berkejaran dengan waktuMeski
Malam ini langkahku semakin tak pasti Entah jalan mana yang harus ku tempuh Aku tak ingin tersesat Haruskah aku diam
Sebentar lagi aku datang ke kotamu Paris Van Java Seperti kedatanganku dulu Akan kutelusuri kembali jalan kenangan Jejak- jejak tapak
Disela hening merapat dalam diam Saat tatap berkaca pada cermin kehidupan Begitu setia desah nafas melintasi batas bumi Adakah karena