Kau di Tenggara Kota II
Padamu Disana ingin kuceritakan tentang mimpi mimpiku tentang nyanyi sunyiku entang lantung doaku kepadamu Namun aku tak sanggup melewati tatap
Bertutur Dalam Goresan
Padamu Disana ingin kuceritakan tentang mimpi mimpiku tentang nyanyi sunyiku entang lantung doaku kepadamu Namun aku tak sanggup melewati tatap
Sungguh telah begitu jauh kita berlayar di telaga rindu Tanpa janji akan di tepian mana kita berlabuh Atau akan kita
Kau di tenggara kota Malam ini aku begitu rindu candamu Sedang kutahu kini kau tak sendiri lagi Namun bayangmu tak
Terasa aku begitu jauh merangkak dari KiblatMu Tangan lunglai dibalut selimut dosa Di hampar keangkuhan yang melilit hingga hanyut pada
Langkah akan sampai ketapal batas Suara mulai serak kalaupun lantang Tak ada ruang tempatnya singgah Walau menyentuh hanya sepoi Hinggap
Saat seutas temali kau rimbungkan bersama selaksa duka, karena keperihan dari pucuk harapan yang tidak tergapai pasti akan pupus sebelum
Jangan hanya berkata kenapa dan kenapa Karena kau juga aku dan kamu adalah ahli waris negeri ini punya hak yang
Disini kutermangu Tempat dimana dulu kau limpahkan tetes air mata dipundaku Kala kita sepertinya sulit bicara Karena kepedihan mendekap begitu
Sekian lama ingin menulis sepucuk surat padamu Saat kau tinggalkan kota ini karena keterpaksaan Namun tak tahu alamat tempatmu menetap
Hidupku bukanlah sebuah misteriKetika langkah ini terhenti di persimpanganBukan berarti nafasku terengah-engahAku hanya butuh sejenak untuk berhentiBukan berkejaran dengan waktuMeski