Ada Waktunya

Langit sore Salatiga berwarna jingga pucat, seolah matahari pun belajar pamit tanpa banyak kata. Di beranda rumah kecilnya, Aluna duduk memeluk lutut. Angin membawa aroma hujan yang belum jatuh, seperti rindu yang tak pernah benar-benar sampai.

“Aku belajar damai dengan luka dan kenangan,” bisiknya pelan, seakan berbicara pada dirinya sendiri.

Sudah tiga tahun sejak Damar pergi. Bukan pergi karena jarak semata, melainkan karena pilihan. Pilihan yang tak lagi menempatkan Aluna di dalamnya. Awalnya, ia merasa dunianya runtuh. Setiap sudut kota menyimpan jejak; kedai kopi tempat mereka berbagi tawa, taman dengan bangku kayu tempat Damar pertama kali menggenggam tangannya, hingga lagu lama yang tak sengaja diputar radio dan membuat dadanya sesak.

Luka itu tak berdarah, tapi perihnya tak kasatmata.

Pada bulan-bulan pertama, Aluna mencoba melawan kenangan. Ia menyingkirkan foto-foto, menghapus pesan-pesan lama, bahkan menghindari jalan yang biasa mereka lewati bersama. Namun semakin ia berlari, semakin kenangan mengejarnya. Seperti bayangan yang setia mengikuti cahaya.

Sampai suatu malam, ia lelah.

Di kamar yang hanya diterangi lampu tidur, Aluna membuka kembali kotak kecil berisi benda-benda sederhana: tiket bioskop yang sudah pudar tintanya, surat dengan tulisan tangan Damar, dan sebuah gelang kain yang warnanya mulai memucat. Ia menangis, bukan karena ingin kembali, tapi karena akhirnya mengakui bahwa ia pernah begitu mencintai.

Dan mencintai bukanlah kesalahan.

Sejak malam itu, Aluna berhenti memusuhi masa lalu. Ia mulai menerima bahwa cerita luka ada waktunya. Bahwa kesedihan pun punya musim. Seperti hujan, ia turun, membasahi, lalu berhenti. Tanah mungkin becek, tapi dari situlah rumput baru tumbuh.

Hari-hari berikutnya tak serta-merta mudah. Ada pagi ketika ia terbangun dengan dada berat. Ada senja ketika bayangan Damar kembali menyelinap di antara warna langit. Namun kini Aluna tak lagi melawan. Ia duduk bersama rasa itu, mendengarkannya, lalu melepaskannya perlahan.

Ia mulai menulis. Setiap malam, di buku cokelat bersampul kain, ia menumpahkan isi hatinya. Tentang marah yang tak terucap, tentang rindu yang diam-diam masih ada, tentang harapan yang dulu ia bangun berdua. Kata demi kata menjadi jembatan untuk memahami dirinya sendiri.

Suatu sore, ketika hujan akhirnya turun deras, Aluna tersenyum. Ia menyadari sesuatu yang sederhana: cerita rindu ada akhirnya.

Bukan berarti rindu itu hilang seketika. Ia hanya berubah bentuk. Dari yang dulu menyakitkan, menjadi hangat. Dari yang dulu membuatnya ingin kembali, menjadi pelajaran agar ia tahu cara mencintai dengan lebih utuh di masa depan.

Beberapa bulan kemudian, Aluna bertemu seseorang di toko buku. Namanya Arka. Pertemuan mereka biasa saja—sama-sama mengincar buku puisi terakhir di rak diskon. Mereka tertawa, lalu berbincang. Tak ada debar yang meledak-ledak, tak ada janji-janji berlebihan. Hanya percakapan ringan tentang hujan dan kopi pahit.

Dan itu cukup.

Aluna tak lagi mencari pengganti. Ia hanya membuka ruang baru. Luka lama tak serta-merta lenyap, tapi tak lagi menguasai. Ia belajar bahwa hatinya bukan rumah yang rusak, melainkan rumah yang sedang direnovasi.

Suatu malam, saat ia menutup buku hariannya, ia menulis:

Terima kasih untuk setiap pertemuan dan perpisahan. Aku tak lagi memohon agar waktu diputar ulang. Aku hanya ingin berjalan ke depan, dengan hati yang lebih lapang.

Di luar, langit kembali berwarna jingga. Kali ini bukan pucat, melainkan hangat. Aluna berdiri di beranda yang sama, tapi dengan perasaan berbeda. Ia tahu, luka dan kenangan akan selalu menjadi bagian dari hidupnya. Namun ia juga tahu, ia tak lagi hidup di dalamnya.

Cerita luka memang ada waktunya.
Cerita rindu memang ada akhirnya.

Dan di antara keduanya, ada seseorang yang sedang belajar mencintai dirinya sendiri—pelan-pelan, tapi pasti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *