Aku berjalan di jalan yang kupilih sendiri,
meski durinya tak pernah berhenti menyapa kaki.
Setiap langkah adalah tanya—
apakah luka ini bagian dari makna,
atau sekadar harga yang harus kubayar tanpa suara?
Aku pernah ingin berhenti,
menaruh mimpi di persimpangan sepi,
lalu pulang pada hidup yang lebih mudah—
tanpa ambisi, tanpa perih, tanpa gelisah.
Namun hatiku selalu menolak kalah.
Perjuanganku bukan tanpa arah,
meski sering terasa seperti kehilangan rumah.
Aku berdiri di antara ragu dan harap,
memeluk luka yang tak sempat sembuh,
dan tetap melangkah… walau tertatih, walau rapuh.
Orang-orang melihat hasil,
tapi tak pernah benar-benar mengerti
betapa aku berkali-kali runtuh
dalam diam yang panjang,
dalam malam yang tak pernah benar-benar pulang.
Namun jika luka adalah bahasa,
biarlah aku fasih mengucapkannya.
Jika jatuh adalah bagian dari perjalanan,
biarlah aku belajar bangkit tanpa tepuk tangan.
Karena suatu hari nanti,
aku ingin menatap semua perih ini
dan berkata—
aku tidak sia-sia terluka,
aku hanya sedang menjadi lebih kuat… tanpa harus terlihat.