Malam itu, Sabtu 11 Juli 2009, angin pelan dari arah Pantai Kuta Bali menyusup ke deretan Kafe-kafe kecil. Aku duduk sendirian di sebuah café kecil, menunggu seorang teman yang tak kunjung datang. Keramaian ringan, denting sendok di gelas, dan aroma kopi membuat malam tampak biasa saja—hingga telepon selulerku tiba-tiba berdering.
Tanpa banyak pikir, kuangkat.
“Apakabar, friend! Dimana posisi? Kau kemana aja?” suara di ujung sana terdengar ceria, akrab, tapi asing di telingaku.
Aku mengernyit. “Siapa nih?” tanyaku ragu.
“Aku Wiwiek! Kau sudah lupa, ya?”
Aku terdiam sejenak. Wiwiek? Astaga—nama yang sudah bertahun-tahun tak mampir di kehidupanku.
“Wiwiek! Apa kabar, friend? Aku masih—dan kayaknya akan selalu—di Bali,” jawabku sambil tertawa kecil.
Wiwiek adalah salah satu teman terbaikku dulu. Pada tahun 1998, kami tergabung dalam satu genk edan, sekitar dua puluh orang jumlahnya. Tiga tahun kami menjalani hidup yang seolah tak punya batas: nongkrong tiap Jumat-Minggu bikin ribut kecil, tertawa keras, dan merasa dunia terlalu luas untuk dijelajahi pelan-pelan.
Lalu waktu datang, seperti biasa, dengan caranya yang diam-diam merenggut kebersamaan. Pekerjaan, karier, hingga keluarga—semuanya membuat kami hilang kontak satu per satu.
Sampai malam itu.
“Tau nggak, Natalie mau nikah besok. Kita diundang. Sekalian genk kita reoni. Lama sudah kita nggak kumpul, semua kangen,” kata Wiwiek. Suaranya terdengar seperti dulu, hangat dan bersemangat. Kini ia memegang jabatan strategis di salah satu perusahaan besar—aku sempat bangga mendengarnya.
Pertanyaan berikutnya meluncur cepat, seperti peluru nostalgia.
“Kau sudah punya anak berapa? Siapa istrimu sekarang?”
Aku tertawa keras. “Wah, aku masih single, bro. Masih hidup santai.”
“APA!” serunya kaget. “Kau belum menikah? Wah, kau sangat terlambat friend! Teman-teman kita sudah punya keluarga semua.”
Aku masih tertawa. “Nikmati saja hidup. Semua ada waktunya, kan?”
Tawa Wiwiek mereda, diganti nada setengah menasihati. “Ingat umur, bro. Kita ini nggak terpaut jauh. Aku saja sudah lewat kepala tiga.”
Aku spontan mencoba menghitung usiaku. Dan di detik itulah, sesuatu menampar pelan pikiranku.
“Oh my God…” gumamku dalam hati.
Usia. Sesuatu yang selama ini kulupakan, atau sengaja kupinggirkan. Ternyata sudah masuk zona warning. Aku terlalu menikmati kesendirianku hingga tak sadar waktu terus berlari. Tahun-tahun jatuh begitu saja tanpa tanda berhenti, tanpa jeda untuk sekadar menoleh ke belakang.
“Hey, kau dengar nggak? Halo?” suara Wiwiek memanggil, membuyarkan lamunanku.
Aku tersadar, menarik napas panjang. Ada geli, ada takut, ada sesuatu yang tak bisa kujelaskan.
Gila. Aku terlalu asyik dengan kesendirianku. Terlalu nyaman berjalan sendiri seolah waktu tak pernah menua.
“Thanks, friend… kau sudah ingatkan aku,” ucapku lirih setelah percakapan itu berakhir.
Malam yang awalnya biasa saja tiba-tiba terasa punya makna. Di antara lampu-lampu Cafe yang mulai redup, aku memandang layar ponsel yang kini kembali diam.
Ternyata kadang kita butuh satu telepon, satu suara lama, untuk menyadarkan bahwa hidup terus bergerak—dan kita tak selalu bisa selamanya berdiri di tempat.