Luka yang Kupeluk Diam-Diam
Aku berjalan di jalan yang kupilih sendiri,meski durinya tak pernah berhenti menyapa kaki.Setiap langkah adalah tanya—apakah luka ini bagian dari
Bertutur Dalam Goresan
Aku berjalan di jalan yang kupilih sendiri,meski durinya tak pernah berhenti menyapa kaki.Setiap langkah adalah tanya—apakah luka ini bagian dari
Untuk kedua kalinyakau memilih pergidan tak kembali. Januari tahun lalu,kau menghilang tanpa kata,meninggalkan tanyayang tak pernah selesai. Aku menyesal—mengapa tak
Entah sudah yang keberapa kali lagi…Aku pun lupa.Tak ingin mengingatnya lagi. Kesal dan kecewa menyatu,mendidih dalam dada.Ingin rasanya marah—tapi pada
Sayank,Kamu bakal tetap di sampingku, kan?Meski langkahku kadang ragu,Meski ucapku tak selalu lembut,Dan hatiku… terlalu sering tergores oleh hal-hal sepele.
Semalam aku terhenyak,Melihat matamu tergenang luka yang tak terucap.Air matamu jatuh tanpa suara,Tapi dentumnya menghancurkan dadaku yang mencinta. Sakit rasanya,Melihatmu
Aku mengenalmu, sebenarnya, telah lama berlaluSaat hati masih malu, dan waktu belum berpihak padakuHanya mampu menyukaimu dari kejauhanMenyimpan rasa dalam
Di jalan panjang yang sunyi dan jauh,kutapaki waktu seperti debu tertiup angin,matahari menyapa dari sela-sela ragu,dan malam meneduhkan luka yang
Kan kulipat selimut kesyahduandi sisi peraduanku yang sunyi,di mana malam bukan sekadar gelap,tapi cermin dari kenangan yang tak henti berbisik.
Continue readingKan Kulipat Selimut Kesyahduan di Sisi Peraduanku
Maret datang dengan langkah pelanAngin berbisik lirih di jendelaSeakan membawa kenangan pudarYang tak lagi ingin kuingat Tak ada semangat di
Perjalananku telah masuki setengah abad Jejak-jejak waktu terukir di wajahkerut-kerut halus bercerita lirihtentang tawa, luka, dan perjuangan yang tak letih