Tuhanku
Terasa aku begitu jauh merangkak dari KiblatMu Tangan lunglai dibalut selimut dosa Di hampar keangkuhan yang melilit hingga hanyut pada
Bertutur Dalam Goresan
Terasa aku begitu jauh merangkak dari KiblatMu Tangan lunglai dibalut selimut dosa Di hampar keangkuhan yang melilit hingga hanyut pada
Langkah akan sampai ketapal batas Suara mulai serak kalaupun lantang Tak ada ruang tempatnya singgah Walau menyentuh hanya sepoi Hinggap
Saat seutas temali kau rimbungkan bersama selaksa duka, karena keperihan dari pucuk harapan yang tidak tergapai pasti akan pupus sebelum
Jangan hanya berkata kenapa dan kenapa Karena kau juga aku dan kamu adalah ahli waris negeri ini punya hak yang
Disini kutermangu Tempat dimana dulu kau limpahkan tetes air mata dipundaku Kala kita sepertinya sulit bicara Karena kepedihan mendekap begitu
Sekian lama ingin menulis sepucuk surat padamu Saat kau tinggalkan kota ini karena keterpaksaan Namun tak tahu alamat tempatmu menetap
Entah, kapan pertama kakiku berpijak di tanahmu Aku sudah tak mengingatnya Karena hampir setiap berganti musim aku berlabuh disana Sebagai
Kita tak pernah benar-benar mengerti cinta.Indahnya hanya di awal,Delapan bulan kebersamaan ini, tak ada sedikit pun kebahagiaan yang kita rasakan.Neraka
Kadang, hidup membawa kita pada persimpangan yang tak pernah kita bayangkan. Marcel, seorang pria yang dulu sangat bangga dengan kehidupan
Malam ini langkahku semakin tak pasti Entah jalan mana yang harus ku tempuh Aku tak ingin tersesat Haruskah aku diam