Jangan Ajarkan Aku Tentang Sabar II
Jangan ajarkan aku tentang sabar,aku sudah terlalu sering belajar tanpa guru.Aku pernah kecewa,berulang kali, tapi tak pernah memilih pergi.Hatiku retak,
Bertutur Dalam Goresan
Jangan ajarkan aku tentang sabar,aku sudah terlalu sering belajar tanpa guru.Aku pernah kecewa,berulang kali, tapi tak pernah memilih pergi.Hatiku retak,
Jangan ajarkan aku tentang sabaraku pernah kecewa, tapi aku tak pernah pergiKupikul luka yang kau beriseperti duri yang menancap tapi
Rembulan malam bersinar malu-malu di langit kota Surakarta. Di sudut stasiun yang sunyi, Andi duduk termenung, tangannya menggenggam erat HP
Di balik sunyi malam yang beku,terdengar jerit hati yang tak bersuara.Seakan dunia enggan mendengar,rintih yang terkurung di dada. Tiada air
Di antara gemuruh waktu yang berlaluterdengar bisik rindu yang tak pernah jemuBayangmu hadir di sela angin senjamenggugah hati yang lama
Bayangmu hadir di senja yang pudarmenyusup pelan dalam ingatan yang rapuhAda rindu yang tak tahu arahmenghantui sunyi di sudut waktu
Laki-laki tak berceritaia simpan luka di balik senyummenjahit retak dengan diammeneguk pahit tanpa rintih Matanya lautan rahasiaombak gelisah tak pernah
Aku tahu semuanya telah berakhir, tak ada lagi yang tersisaAku tahu, kini kamu telah memiliki yang lainKarena aku tahu, banyak
Di antara bayang sejarah yang terpatriLangkahmu bergema di jalanan sunyiKota Melayu Deli menyimpan rinduDalam alunan syair yang pilu Jalan Kesawan
Memandangmu, aku terperosok ke dalam jurang cinta Kamu, melati berduri, indah namun penuh bahaya Terpesona, namun harus berhati-hati Salah petik,